Ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat setelah AS dan Israel meluncurkan serangan udara terhadap Iran, memunculkan kemungkinan bahwa Teheran akan menggunakan ranjau laut untuk menghalangi Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis di dunia. Selat ini dengan lebar hanya 39 km di titik terkecilnya merupakan titik rawan yang rentan. Untuk membersihkan ranjau laut di daerah tersebut, Angkatan Laut AS saat ini menggunakan tiga kapal tempur pesisir, salah satunya adalah USS Canberra yang dilengkapi dengan modul pembersihan ranjau generasi berikutnya. USS Canberra (LCS-30) merupakan kapal tempur pesisir dengan biaya konstruksi sekitar USD600–700 juta, yang dirancang untuk misi pembersihan ranjau di wilayah tersebut. Program pengembangan kapal perang ini diluncurkan pada awal tahun 2000-an sebagai respons terhadap kondisi operasional angkatan laut pasca Perang Dingin yang menunjukkan adanya ancaman asimetris di perairan dangkal, termasuk ranjau, perahu cepat bersenjata, dan kapal selam kecil. Konsep inti dari program kapal tempur pesisir adalah menggunakan model “paket misi” yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan tugas operasional kapal. USS Canberra adalah varian dari kelas “Independence” yang memiliki desain lambung tiga lapis dan dibangun oleh Austal USA di Alabama. Dengan panjang sekitar 127 meter, lebar 31,6 meter, dan bobot sekitar 3.100 ton, kapal ini mampu mencapai kecepatan maksimum lebih dari 40 knot dengan jangkauan sekitar 4.300 mil laut. Nama USS Canberra diambil untuk menghormati kapal penjelajah berat USS Canberra (CA-70) yang aktif selama Perang Dunia II. Dengan desain yang mengoptimalkan stabilitas kapal pada kecepatan tinggi dan memperluas ruang interior untuk sistem peralatan misi, USS Canberra menjadi salah satu kapal tempur pesisir terkemuka milik Angkatan Laut AS.

