Takaichi Usai Menang Pemilu: Jepang Siap Hadapi Pergeseran Kebijakan Besar
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menegaskan bahwa kemenangan pemilu bersejarah yang diraihnya bukan sekadar modal politik, melainkan sinyal bahwa publik menuntut perubahan besar. Pada Senin, ia menyebut masyarakat melihat “kebutuhan mendesak” untuk reformasi, seraya menekankan agenda memperkuat pertahanan nasional, menghidupkan ekonomi, dan merespons isu imigrasi yang kian disorot.
Kemenangan yang Mengubah Peta Politik
Pemungutan suara mendadak pada Minggu memberi Partai Demokrat Liberal (LDP) pimpinan Takaichi mayoritas dua pertiga di majelis rendah untuk pertama kalinya dalam sejarah partai. Dengan raihan sekitar 316 dari 465 kursi, LDP melampaui ambang 310 kursi yang dibutuhkan untuk mayoritas dua pertiga. Hasil ini memperkokoh posisi Takaichi, yang baru menjabat sejak Oktober lalu, sebagai perdana menteri perempuan pertama Jepang dan membuka ruang lebih besar untuk memengaruhi arah kebijakan negara berpenduduk 123 juta jiwa itu selama empat tahun ke depan.
Dalam konferensi pers, Takaichi, 64, menyebut kemenangan itu sebagai awal dari “tanggung jawab yang berat” untuk membuat Jepang “lebih kuat” dan “lebih makmur”. Ia menegaskan bahwa pemerintahannya akan bergerak pada jalur reformasi yang lebih tegas, dengan penekanan pada pertahanan dan ketahanan ekonomi.
Fokus Baru: Pertahanan, Intelijen, dan Konstitusi
Takaichi, yang dikenal mengagumi Margaret Thatcher, mengatakan Jepang akan memperkuat pertahanan dengan membentuk biro intelijen baru dan meninjau ulang dokumen kebijakan keamanan utama. Ia juga menekankan bahwa Jepang tidak bisa bergantung pada pihak lain untuk mempertahankan diri.
“Tidak ada yang akan datang membantu negara yang tidak punya tekad untuk membela dirinya sendiri dengan tangan sendiri,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pemerintahannya akan menjaga perdamaian dan kemerdekaan Jepang, termasuk wilayah, perairan teritorial, ruang udara, serta keselamatan warga.
Komitmen itu berpotensi memicu reaksi keras dari China, terutama setelah Takaichi pada November lalu menyatakan Jepang bisa saja melakukan intervensi militer jika Beijing mencoba merebut Taiwan dengan kekerasan. Beijing memandang Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan untuk menguasainya. Pada Senin, juru bicara Kementerian Luar Negeri China kembali mendesak Jepang menarik ucapan tersebut, sembari memperingatkan bahwa langkah sembrono akan mendapat “respon tegas dari komunitas internasional”.
Tekanan Diplomatik dan Ujian Ekonomi
Meski nada Takaichi keras, ia tetap membuka pintu dialog. “Negara kami terbuka untuk dialog dengan China. Kami sudah memiliki pertukaran pandangan. Kami akan melanjutkan pertukaran pandangan tersebut. Namun, kami akan menanganinya dengan cara yang tenang dan tepat,” kata dia.
Kemenangan ini juga memperkuat posisi Takaichi untuk mendorong perubahan pada konstitusi Jepang, sesuatu yang selama ini menjadi agenda lama kelompok konservatif. Dukungan politiknya ikut terdongkrak oleh popularitas yang ia bangun sejak menjadi perdana menteri kelima Jepang dalam lima tahun terakhir.
Di sisi lain, tantangan terbesar Takaichi justru ada pada ekonomi. Ia populer di kalangan pemilih muda dan dikenal dengan citra personal yang kuat, mulai dari tas tangan hingga kemunculannya saat bertemu presiden Korea Selatan sambil mendengarkan lagu K-pop. Namun dukungan itu bisa cepat memudar jika harga-harga terus naik dan pemerintah gagal meredam inflasi.
“Saat harga naik seperti ini, yang paling penting bagi saya adalah kebijakan apa yang akan mereka terapkan untuk menangani inflasi,” kata pemilih Chika Sakamoto, 50, kepada AFP pada Minggu.
Pasar pun mencermati arah kebijakan fiskal Takaichi. Rencana bantuan rumah tangga berisiko memicu kekhawatiran soal utang Jepang yang sudah sangat besar, lebih dari dua kali lipat ukuran ekonominya. Selama kampanye, imbal hasil obligasi Jepang tenor panjang sempat menyentuh rekor tertinggi setelah Takaichi mengusulkan penangguhan pajak pangan. Sementara itu, indeks Nikkei Tokyo melonjak lebih dari lima persen pada awal perdagangan Senin dan ditutup 3,9 persen lebih tinggi.
Takaichi kembali menegaskan pada Minggu bahwa kebijakan fiskalnya akan tetap “bertanggung jawab”, tetapi ia juga ingin “membangun ekonomi yang kuat dan tangguh”. Meski begitu, analis menilai tantangan inflasi belum tentu mudah dijawab. Tetsuo Kotani dari Institut Urusan Internasional Jepang mengatakan kebijakan pemerintahan Takaichi kemungkinan tidak akan langsung menekan tekanan harga yang dikeluhkan pemilih. Ia juga mengingatkan bahwa kenaikan pajak penghasilan untuk membiayai belanja pertahanan hampir tak terhindarkan, dan jika pasar terguncang, dampaknya bisa terasa pada saham, yen, dan obligasi pemerintah.
Presiden AS Donald Trump, yang dijadwalkan menerima Takaichi di Washington bulan depan, turut memberi ucapan selamat setelah sebelumnya menyatakan dukungan. “Saya mengucapkan selamat atas Kesuksesan Besar Anda dalam mendorong Agenda Konservatif, Damai melalui Kekuatan,” tulis Trump di Truth Social. Takaichi menyebut pertemuan pada 19 Maret akan “memperkuat kembali persatuan tak tergoyahkan antara Jepang dan Amerika Serikat.”
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.

