Di tengah hiruk-pikuk perdebatan soal Papua, ada suara yang nyaris tak terdengar: suara para pengungsi yang kehilangan rumah, kebun, ternak, dan rasa aman. Di Papua Pegunungan, banyak warga yang terpaksa meninggalkan kampung halaman dan hidup dalam keadaan serba terbatas, sementara harapan mereka untuk kembali justru kerap tenggelam di antara isu politik dan keamanan.
Rindu Pulang, Bukan Bertahan di Pengungsian
Yefta Lengka, seorang aktivis kemanusiaan, mencatat langsung keluh kesah para pengungsi di kota Kenyam, Kabupaten Nduga. Dari cerita yang ia dengar, satu hal paling menonjol adalah kerinduan untuk pulang. Mereka tidak ingin selamanya tinggal di tempat pengungsian, karena hidup dalam keadaan terpaksa membuat hari-hari terasa hampa dan jauh dari kebahagiaan.
Namun, keinginan kembali ke kampung halaman tidak sesederhana yang dibayangkan. Di balik harapan itu, ada ketakutan yang terus membayangi, terutama terkait kekerasan militer yang membuat banyak warga enggan mengambil risiko. Akibatnya, pilihan mereka serba sempit: bertahan dalam ketidakpastian atau kembali dengan ancaman yang belum benar-benar hilang.
Doa yang Berbeda dari Kekhawatiran Sehari-hari
Di tengah tekanan hidup, para pengungsi tetap memelihara ruang batin yang kuat lewat doa. Menurut Yefta, doa-doa mereka tidak berputar pada urusan harta, bisnis, atau pencapaian material seperti yang kerap mendominasi percakapan di wilayah perkotaan. Yang mereka panjatkan justru lebih mendasar: kemerdekaan Papua, keselamatan keluarga, dan kesempatan untuk hidup dengan tenang.
Perbedaan itu memperlihatkan betapa kerasnya realitas yang mereka hadapi. Bagi para pengungsi, doa bukan sekadar rutinitas, melainkan cara bertahan ketika kehidupan sehari-hari dipenuhi rasa kehilangan. Mereka berdoa dengan tulus, sambil memendam harapan agar keadaan berubah dan keluarga yang masih berada di pengungsian tetap selamat.
Suara yang Terabaikan, Harapan yang Tidak Padam
Meski jarang mendapat perhatian, para pengungsi di Papua Pegunungan terus menyimpan daya tahan yang lahir dari pengalaman paling pahit. Mereka tidak sekadar menunggu keadaan membaik, tetapi juga terus menjaga ingatan tentang tanah asal yang belum bisa mereka datangi kembali. Di situlah letak pesan paling kuat dari kisah mereka: di balik tubuh yang berpindah dan hidup yang tercerabut, ada harapan pulang yang belum padam.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.

