Masyarakat Papua Masih Terluka Setelah Lima Dekade Integrasi dengan NKRI
Forum Umat Kristiani Indonesia (FUKRI) menyatakan sikap terhadap konflik bersenjata di Tanah Papua antara aparat keamanan dan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) yang telah mengakibatkan korban jiwa. Kelompok FUKRI yang terdiri dari berbagai denominasi agama Kristen menyampaikan keprihatinan mendalam atas situasi kemanusiaan yang terus memburuk di Papua.
Situasi Kemanusiaan Krisis Struktural tanpa Penyelesaian yang Bermartabat
Lebih dari lima dekade setelah Papua bergabung dengan Indonesia, Tanah Papua masih menyimpan luka-luka yang belum sembuh. Konflik bersenjata yang berkepanjangan telah menelan korban jiwa dari berbagai pihak, termasuk orang asli Papua, warga non-Papua, aparat keamanan, dan kelompok lain yang terjebak dalam kekerasan. Kelompok yang paling rentan adalah perempuan, anak-anak, tokoh agama, tenaga kesehatan, guru, petani, dan masyarakat adat.
FUKRI menilai krisis kemanusiaan di Papua bukan lagi masalah insidental, melainkan krisis struktural yang berulang tanpa ada penyelesaian yang layak. Peristiwa-peristiwa tragis yang terjadi belakangan ini di Intan Jaya dan daerah konflik lainnya menjadi bukti nyata akan kondisi ini.
Perlunya Penyelesaian Berbasis Keadilan dan HAM
Di tengah situasi ini, FUKRI menegaskan bahwa keamanan sejati harus tumbuh dari keadilan, penghormatan terhadap martabat manusia, perlindungan hak-hak warga negara, dan kesediaan untuk berdialog secara jujur. Mereka menyatakan bahwa kebijakan keamanan yang terus ditekankan oleh negara seharusnya juga melindungi kehidupan dan martabat manusia, sesuai dengan konstitusi Indonesia.
FUKRI juga meminta pemerintah untuk mengevaluasi pendekatan keamanan yang selama ini diterapkan di Papua, karena pengalaman menunjukkan bahwa pendekatan militeristik tidak mampu menghadirkan perdamaian yang berkelanjutan. Prioritas harus diberikan kepada penanganan krisis kemanusiaan, terutama bagi para pengungsi internal dan kelompok rentan di Papua.
Dialog merupakan kunci untuk menyelesaikan konflik Papua secara inklusif, jujur, dan bermartabat. Gereja-gereja di Indonesia serta berbagai pihak lainnya telah lama menyerukan dialog sebagai jalan keluar, namun upaya ini belum mendapat ruang yang cukup dalam kebijakan negara. Dialog bukanlah tanda kelemahan, melainkan wujud kedewasaan demokrasi yang berani mendengarkan, mengakui, dan mencari solusi bersama.
Sebagai bagian dari komunitas yang beriman, FUKRI mengajak semua pihak untuk menghentikan kekerasan, prioritaskan keselamatan warga sipil, dan berupaya membangun perdamaian yang berdasarkan kebenaran, keadilan, dan kasih.
Mengakhiri segala bentuk kekerasan dan prioritas terhadap keselamatan rakyat adalah langkah utama yang harus diambil, serta pentingnya memastikan bahwa kebijakan keamanan yang diterapkan berpihak pada kemanusiaan dan martabat semua pihak.

