Serangan Awal Indonesia ke Papua Barat: Sejarah dan Kontroversi
Pada tahun 1952, atas desakan Presiden Sukarno, Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo mulai mengizinkan serangan-serangan terbatas ke Papua Barat. Namun, serangan awal ini tidak berhasil secara militer, dan Indonesia baru kembali melancarkan operasi militer lagi pada tahun 1960. Serangan-serangan tersebut dianggap “keterlaluan” oleh Ken Conboy, dan berujung pada penangkapan para penyusup dalam hitungan hari.
Upaya Infiltrasi dan Penangkapan
Pada tahun 1952, upaya infiltrasi pertama ke Pulau Gag berakhir dengan penangkapan para penyusup dalam waktu singkat. Tahun berikutnya, infiltrasi ke Kaimana juga segera diatasi. Namun, upaya infiltrasi ketiga di Teluk Etna pada tahun 1954 jauh lebih serius. Sejumlah 42 penyusup bersenjata berhasil menculik seorang petugas polisi Belanda, namun akhirnya diserang oleh marinir Belanda dan mengakibatkan sebelas korban tewas di pihak Indonesia.
Dukungan dan Kontroversi
Pemerintah Indonesia sadar bahwa mereka tidak mampu melawan Belanda secara militer di Irian Barat. Pada tahun 1960, Indonesia kembali menguji posisi militer Belanda di wilayah tersebut. Di samping itu, beberapa negara memberikan dukungan kepada pihak yang berkonflik. Negara Afro-Asia mendukung klaim Indonesia atas Papua Barat, sementara Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa Barat serta Amerika Latin mendukung Belanda.
Sikap negara-negara tersebut mencerminkan ketegangan yang terjadi selama sengketa, di mana Indonesia berusaha membawa masalah ini ke PBB namun menghadapi penolakan dan kegagalan dalam pemungutan suara. Meskipun demikian, Indonesia terus berupaya mengambil langkah strategis untuk menyelesaikan sengketa tersebut.
Sejarah serangan awal Indonesia ke Papua Barat memberikan pandangan yang menarik tentang perjuangan dan tantangan dalam upaya merebut kendali wilayah tersebut. Kontroversi serta dukungan dari berbagai pihak turut memperumit dinamika konflik yang terus berlanjut.

