Terkini, perkembangan teknologi militer terus mengalami kemajuan yang signifikan, terutama dalam pengembangan robot militer yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan (AI). Hal ini membawa dampak besar pada strategi peperangan, struktur kekuatan militer, serta peralatan tempur. Negara-negara seperti AS, Rusia, dan Tiongkok telah memimpin dalam program pengembangan robotika militer, dengan fokus pada UAV tempur otonom, tank tanpa awak, dan sistem pertahanan cerdas. Hal ini dipicu oleh keinginan untuk memiliki keunggulan dalam teknologi militer di medan perang.
Menurut riset Mordor Intelligence, pasar robot militer diperkirakan mencapai nilai USD 24,37 miliar pada tahun 2024 dan diproyeksikan mencapai USD 34,12 miliar pada tahun 2029. Lebih dari 50 negara telah mengadopsi program senjata terintegrasi AI untuk meningkatkan kekuatan militer mereka. Vietnam sendiri telah secara proaktif menjalankan program yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi praktisnya.
Kolonel Tran Quoc Viet dari Biro Perang Elektronik Staf Umum Tentara Rakyat Vietnam mengungkapkan pentingnya penelitian tentang robot militer bagi negara-negara maju. Menurut beliau, pengembangan teknologi robot militer dapat tidak saja meningkatkan kemampuan pertahanan negara, tetapi juga melindungi kedaulatan nasional dari ancaman invasi. Dengan tren perkembangan robot militer yang meningkat di seluruh dunia, dapat diprediksi bahwa robot tempur akan semakin dikerahkan dalam berbagai konflik internasional pada masa depan.

