Di Kota Jayapura, tradisi mencari ikan dengan menggunakan bagan semakin populer di kalangan warga setempat, seperti yang dilakukan oleh Philipus Sanyi dari Kampung Injros. Menurutnya, membangun sebuah bagan memerlukan biaya yang cukup besar, berkisar antara Rp50 juta hingga Rp100 juta. Namun, hasil yang didapat dari mencari ikan dengan bagan jauh lebih memuaskan daripada menggunakan metode tradisional seperti pancing atau menjaring.
Philipus Sanyi menyatakan bahwa dengan menggunakan bagan, ia bisa mendapatkan hasil tangkapan ikan yang cukup untuk dijual di pasar, dengan pendapatan hingga lima ratus ribu rupiah per hari. Meskipun demikian, ia merasa belum mendapat bantuan atau binaan dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Jayapura karena tidak tergabung dalam Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI).
Namun, keberhasilan dalam mencari ikan dengan bagan di Teluk Youtefa juga dipengaruhi oleh pembangunan Jembatan Youtefa yang dilakukan pada tahun 2019. Akibat penerangan yang terang di jembatan tersebut, jumlah ikan yang masuk ke teluk mulai berkurang, mengakibatkan penurunan hasil tangkapan bagi para nelayan. Meski demikian, Philipus Sanyi tetap berkomitmen untuk terus mencari ikan dengan bagan di area sekitar Teluk Youtefa.
Meskipun tantangan seperti sampah dan cahaya terang dari jembatan harus dihadapi, para nelayan seperti Philipus Sanyi tetap optimis dalam menjalankan profesi mereka. Meski hasil tangkapan mungkin tidak sebanyak dulu, namun semangat untuk terus mencari ikan tetap tinggi. Saat ini, di Teluk Youtefa terdapat sembilan bagan, dua di antaranya dimiliki oleh warga Papua seperti Philipus Sanyi. Meski demikian, tantangan seperti kehadiran bagan asing dan peraturan yang berubah membuat para nelayan harus tetap berjuang untuk mencari ikan di Teluk Youtefa.

