Di Jayapura, tumpukan minuman kaleng berwarna-warni tersusun rapi di sisi kasir toko-toko sebagai persiapan menyambut hari raya. Minuman kaleng bukan sekadar barang dagangan musiman di kota ini, tetapi juga simbol sosial, bagian dari tradisi yang hidup dalam keseharian warga saat merayakan Natal atau Idulfitri. Tumpukan minuman kaleng menjadi isyarat akan kedatangan Peta atau pegang tangan, upacara yang mempertemukan orang-orang lintas agama dan suku. Ketika hari raya tiba, pintu-pintu rumah di Jayapura terbuka lebar untuk menerima tamu dari tetangga, kerabat, dan teman tanpa sekat. Praktik Pegang Tangan, yang mengakar dalam budaya orang Papua, menjadikan Jayapura terasa hangat dan ramah saat perayaan hari raya.
Tradisi Pegang Tangan juga melahirkan fenomena “anak kaleng,” rombongan anak-anak yang berkeliling dari rumah ke rumah untuk berjabat tangan dan merasakan suasana hari raya. Anak-anak seperti Gabriel, 11 tahun, menjadi bagian dari kelompok ini. Mereka seringkali pulang dengan tas atau kantong plastik penuh, berisi minuman, makanan ringan, atau uang THR. Selain bingkisan materi, mereka juga membawa pengalaman sosial yang membentuk kenangan masa kecil yang hangat.
Peta tidak hanya sebagai acara berjabat tangan, namun juga sebagai perekat kerukunan di Jayapura. Silaturahmi antartetangga berkembang menjadi hubungan sosial yang erat, dilanjutkan dengan percakapan ringan yang membuat suasana menjadi akrab. Meskipun zaman terus berubah, tradisi Pegang Tangan tetap berlangsung dan memberi warna tersendiri bagi perayaan hari raya di Kota Jayapura. Rustam, warga setempat, menyambut anak-anak dengan minuman kaleng dan bingkisan kecil sebagai ekspresi syukur akan kehadiran mereka.
Menurut Dr. Hanro Yonathan Lekitoo, seorang antropolog, Peta adalah bentuk kohesi sosial yang telah ada sejak lama di Papua. Tradisi ini membawa solidaritas dan rekonsiliasi di tengah masyarakat yang plural. Anak-anak sebagai duta perdamaian membawa cerita kebaikan dan pengalaman penerimaan, memperkuat hubungan sosial di Jayapura. Fenomena Pegang Tangan dan anak kaleng adalah fondasi yang menjaga masyarakat Papua tetap bersatu, walaupun dalam keberagaman yang ada. Tradisi kecil ini menjadi bagian penting dalam mempererat hubungan sosial dan kohesi masyarakat di Kota Jayapura.

