Thursday, June 18, 2026
HomeHEADLINEPesta Babi di Auckland: Sorot Ekosida di Papua

Pesta Babi di Auckland: Sorot Ekosida di Papua

Film dokumenter Pesta Babi (Pig Feast) memperoleh pemutaran perdana dunia di Auckland sebagai bagian dari Forum Papua Barat yang diadakan oleh gerakan solidaritas Papua Barat di Selandia Baru. Film tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Jubi Media, Watchdoc, Indonesia Baru, Pusaka Bentala Rakyat, dan Greenpeace Indonesia yang disutradarai oleh Dandhy Laksono dan Cypri Dale. Dalam film ini, terungkap dampak pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia terhadap masyarakat Papua di tanah adat mereka, termasuk deforestasi akibat pengembangan agribisnis dan keberadaan militer Indonesia yang terlibat dalam konflik bersenjata dengan kelompok militan Tentara Pembebasan Papua Barat atau TPNPB.

Proyek Strategis Nasional (PSN) Pemerintah Indonesia bertujuan untuk mengembangkan dua juta hektare hutan menjadi perkebunan tebu dan sawah. Meskipun Jakarta mengklaim proyek ini akan membawa pembangunan yang dibutuhkan bagi Papua, masyarakat setempat justru melihatnya sebagai ancaman terhadap kehidupan, budaya, dan keanekaragaman hayati mereka. Deforestasi sebelumnya akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit juga telah mempengaruhi pola makan tradisional dan ikatan masyarakat adat Papua dengan tanah leluhur mereka.

Forum Papua Barat membahas isu-isu seperti militerisasi wilayah, kerusakan lingkungan, pengorganisasian masyarakat, dan pelanggaran hak asasi manusia. Mantan anggota parlemen Selandia Baru, Catherine Delahunty, menyoroti film Pesta Babi sebagai gambaran kolusi antara pemerintah Indonesia, perusahaan, dan militer yang menyebabkan kerusakan lingkungan serta memberikan dukungan bagi pemimpin dan pengorganisir Papua Barat dalam menentang deforestasi dan militerisasi di wilayah mereka.

Peserta forum menyerukan agar Pacific Islands Forum dan pemerintah Selandia Baru menunjukkan keberanian moral untuk melawan penghancuran hutan dan eksploitasi orang-orang Papua Barat. Mereka memandang bahwa kondisi tersebut tidak hanya sebagai masalah domestik di Indonesia, namun juga sebagai krisis hak asasi manusia dan ekosida regional yang mengancam keberlangsungan planet ini.

Source link

BERITA TERKAIT

Berita Populer