Pada tanggal 27 Maret, Iran menembak jatuh pesawat komando dan kendali E-3 AWACS milik AS di Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi, mengakibatkan kerugian signifikan bagi Angkatan Udara AS. Serangan ini tidak hanya merusak pesawat komando E-3 Sentry AWACS tetapi juga melukai lebih dari 10 tentara Amerika, dengan dua di antaranya mengalami luka serius. Komando Pusat AS (CENTCOM) menolak memberikan komentar terkait serangan ini.
E-3 AWACS adalah sistem komando dan kendali udara AS yang krusial dalam melacak ancaman, mengoordinasikan jet tempur, pengisian bahan bakar, pengeboman, dan pengumpulan intelijen di lapangan, terutama dalam konflik dengan Iran. Namun, kehilangan pesawat ini merupakan masalah besar karena hanya tersisa 16 pesawat E-3 Sentry di seluruh Angkatan Udara AS, dengan enam diantaranya dikerahkan di Timur Tengah. Sementara pesawat pengganti E-7 Wedgetail mengalami penundaan dan diantisipasi baru akan tiba pada tahun 2028.
Dalam beberapa penilaian, kerusakan pada pesawat E-3 dianggap parah dan “mungkin tidak lagi beroperasi,” yang dapat mengurangi jumlah total pesawat AWACS yang tersedia menjadi 15, dengan tingkat kesiapan misi sekitar 56%. Para ahli, termasuk Heather Penney dari Mitchell Institute for Aerospace Studies, menggarisbawahi pentingnya untuk mempercepat pengadaan pesawat E-7 generasi berikutnya guna mengimbangi kerugian tersebut. Serangan ini menyorot urgensi untuk memperkuat pertahanan udara dan sistem komando AS dalam menghadapi ancaman di wilayah tersebut.

