26 Februari 1999 adalah titik penting dalam sejarah politik Papua modern yang kerap terlupakan. Pada tanggal tersebut, almarhum Thom Beanal memimpin tim 100 bertemu Presiden Republik Indonesia ke-3, B.J. Habibie di Istana Negara Jakarta untuk membahas masa depan Papua. Pertemuan tersebut dianggap sebagai momen dialog historis antara Papua dan pemerintah pusat pada awal masa reformasi. Dalam peluncuran dan bedah buku tiga seri Thom Beanal, Dr. Budi Hernawan dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta menyatakan bahwa makna 26 Februari 1999 sering terlupakan oleh generasi muda Papua.
Budi Hernawan menekankan pentingnya menghidupkan kembali sejarah tersebut sebagai bentuk refleksi panjang, bukan hanya sebagai nostalgia atau trauma belaka. Ia juga menyoroti kelemahan budaya menulis reflektif di Indonesia, termasuk di Papua. Selain itu, dia menyoroti kondisi saat ini di Tanah Papua yang terbagi menjadi enam provinsi dengan banyak lembaga pemerintahan, dikepung oleh investasi besar, dan kehadiran aparat keamanan yang besar.
Direktur Aliansi Demokrasi untuk Papua, Latifa Anum Siregar, mengatakan bahwa pemikiran dan perjuangan Thom Beanal tetap relevan hingga saat ini, terutama dalam rangka mencapai perdamaian. Pesan-pesan perjuangan dari Thom Beanal perlu dipahami dan dijadikan sebagai inspirasi bagi generasi muda Papua untuk bersatu demi masa depan Tanah Papua yang lebih baik.

