Perempuan Adat di Kampung Enggros, Papua, Melestarikan Hutan Mangrove di Tengah Ancaman
Di tengah gemuruh ombak Pantai Ciberi, perempuan adat Suku Enggros-Tobati di Kampung Enggros, Jayapura, Papua, setiap hari menjaga dan melestarikan hutan mangrove. Mereka membawa tradisi tonot wiyat, di mana perempuan memiliki akses eksklusif ke hutan perempuan tanpa busana. Mama Persila dan rekan-rekannya rutin mencari bia, kepiting, dan ikan di hutan tersebut.
Keunikan Tradisi Tonot Wiyat
Hutan mangrove di Kampung Enggros menjadi bagian penting dari keberadaan Suku Enggros-Tobati. Setiap harinya, perempuan adat turut menjaga dan melindungi hutan tersebut dari ancaman. Kehadiran hutan perempuan bukan hanya sebagai sumber mata pencaharian, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran dan pendidikan yang turun-temurun.
Terbentuknya Kelompok Tani Hutan Ibayauw memberikan wewenang kepada perempuan adat untuk mengelola dan menjaga hutan mangrove. Meskipun menghadapi berbagai ancaman seperti pencemaran lingkungan dan kerusakan lahan, para perempuan ini tetap gigih dalam upaya pelestarian lingkungan.
Tantangan dan Harapan untuk Masa Depan
Selain upaya pelestarian hutan mangrove, generasi muda di Kampung Enggros dihadapkan pada tantangan berat untuk meneruskan warisan budaya tersebut. Regenerasi perempuan dalam melestarikan hutan adat perlu didorong agar keberadaan tradisi tonot wiyat tetap terjaga.
Pelestarian hutan mangrove juga mendapat sorotan dari Ahli Lingkungan yang menegaskan pentingnya menjaga keberlanjutan lingkungan. Desakan untuk melakukan reboisasi hutan mangrove yang hilang juga disuarakan demi mengembalikan ekosistem yang terganggu.
Peran pemerintah dalam perlindungan hutan mangrove di Teluk Youtefa juga menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan keberlangsungan budaya perempuan adat di Kampung Enggros. Semua pihak diharapkan dapat bekerja sama dalam upaya pelestarian hutan mangrove tersebut untuk generasi yang akan datang.

