Peran China Menguat Setelah AS Cabut Dukungan untuk SPREP
Keputusan Amerika Serikat menarik diri dari Program Lingkungan Regional Pasifik atau SPREP langsung membuka ruang baru di kawasan. Di saat Washington menempatkan lembaga itu dalam daftar penerima dana yang tak lagi didukung, Republik Rakyat Tiongkok justru bergerak cepat mengisi kekosongan yang muncul. Langkah ini menegaskan bahwa persaingan pengaruh di Pasifik tak hanya berlangsung lewat diplomasi, tetapi juga lewat pendanaan lembaga-lembaga regional yang punya peran penting bagi negara-negara kepulauan.
Washington mundur, Beijing masuk
Presiden Donald Trump memasukkan SPREP ke dalam daftar lembaga yang tidak akan menerima dukungan pendanaan, dengan alasan organisasi itu dianggap “bertentangan dengan kepentingan Amerika Serikat”. Kebijakan tersebut tidak hanya berdampak pada SPREP, tetapi juga menyentuh sejumlah badan Perserikatan Bangsa-Bangsa lain, termasuk Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim, Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim, dan UN Oceans.
Di tengah keputusan itu, Tiongkok mengambil langkah berlawanan. Pada 2024, Beijing menyumbang US$200.000 kepada SPREP, ditambah kontribusi sebesar $362.817 untuk mendukung organisasi tersebut jika diperlukan. Dukungan ini muncul ketika posisi pendanaan Amerika Serikat mulai dipertanyakan dan menjadi sinyal bahwa China siap memainkan peran yang lebih besar di Pasifik.
Dampak bagi SPREP dan respons negara pendukung
Amerika Serikat sebelumnya merupakan penyumbang dana terbesar kedua bagi SPREP pada 2024, dengan kontribusi US$190.000. Meski angka itu tidak sebesar dukungan dari Australia dan Selandia Baru, hilangnya dana dari Washington tetap memunculkan pertanyaan soal keberlanjutan organisasi tersebut dalam jangka pendek.
Pemerintah Australia dan Selandia Baru, dua pendukung utama SPREP, juga dimintai tanggapan mengenai masa depan lembaga itu. Selandia Baru disebut tidak terlalu khawatir dengan situasi tersebut, sementara Australia masih berkoordinasi dengan SPREP untuk memahami implikasi dari keputusan Amerika Serikat. Di sisi lain, kontribusi Tiongkok dipandang penting untuk menjaga stabilitas kerja organisasi lingkungan kawasan itu.
Keheningan SPREP dan kritik atas pilihan politik
Menurut laporan surat kabar Savali milik pemerintah Samoa, sumbangan Tiongkok diserahkan dalam sebuah upacara kecil oleh Duta Besar Tiongkok untuk Samoa. Direktur layanan hukum dan badan pengatur SPREP menilai kontribusi tersebut berarti bagi kelangsungan organisasi.
Namun, keputusan AS tidak hanya memicu pergeseran dana, tetapi juga kritik. Al Gillespie, pakar hubungan New Zealand/Tiongkok sekaligus wakil rektor Universitas Waikato, menyatakan kekesalannya atas praktik pilih kasih yang menurutnya kerap mewarnai kebijakan negara-negara besar dalam isu regional. Ia juga menyoroti kemungkinan kekosongan yang segera diisi oleh RRT jika negara lain tidak bergerak cepat.
Hingga kini, SPREP belum memberikan komentar resmi atas penarikan dukungan Amerika Serikat. Pemerintah Samoa dan Kedutaan Besar Tiongkok di Selandia Baru juga dimintai tanggapan terkait perkembangan tersebut.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.

