Keamanan siber di smartphone menjadi sorotan seiring dengan meningkatnya serangan siber, judi online, hingga pornografi. Tingkat literasi keamanan digital yang rendah di tengah masyarakat Indonesia, serta kecenderungan menggunakan aplikasi gratisan tanpa memperhatikan risiko, telah menempatkan jutaan pengguna ponsel pintar dalam bahaya serangan siber. Berbagai ancaman seperti Trojan Android Klopatra, judi online, dan pencurian data pribadi semakin merajalela.
Mr. Bert, seorang Key Opinion Leader (KOL) di bidang keamanan siber, menyoroti kontradiksi perilaku konsumen Indonesia yang suka menggunakan aplikasi gratisan namun belum teredukasi tentang keamanan siber. Hal ini menjadi masalah serius karena serangan siber dapat dengan mudah masuk melalui media sosial tanpa disadari. Desakan agar fitur keamanan siber menjadi standar wajib “bawaan pabrik” pada setiap unit smartphone yang dijual di Indonesia semakin mendesak.
Ketua Asosiasi Digital Grafika dan Informasi Siber Indonesia (ADIGSI), Firli Ganinduto, menyatakan keprihatinannya terhadap rendahnya tingkat literasi keamanan siber di Indonesia. ADIGSI aktif mendorong agar fitur keamanan siber menjadi standar pada setiap smartphone yang beredar di Indonesia, mengubahnya dari fitur yang mewah menjadi kebutuhan primer. Infinix telah berkolaborasi dengan PT ITSEC Asia Tbk untuk meluncurkan Infinix Note Edge 5G+ sebagai langkah strategis dalam demokratisasi keamanan siber, di mana perlindungan yang sebelumnya hanya tersedia untuk korporat kini hadir pada konsumen ritel dengan harga terjangkau.
Sergio Ticoalu, Head of Marketing Infinix Indonesia, mengakui bahwa kejahatan siber yang semakin canggih dengan menggunakan kecerdasan buatan (AI) menuntut produsen untuk menjadi lebih proaktif dalam menjaga keamanan pengguna ponsel pintar. Dengan meningkatnya keterlibatan masyarakat, edukasi, dan perlindungan yang lebih baik, diharapkan keamanan siber dapat menjadi prioritas utama dalam setiap perangkat smartphone yang digunakan di Indonesia.

