Jejak tambang emas di Papua Nugini dimulai dari praktik sederhana masyarakat lokal yang mengolah tanah liat menjadi tembikar. Namun sejak kolonial Inggris mulai melakukan eksplorasi emas di Teluk Erdscar pada tahun 1825, cara pemanfaatan sumber daya alam di wilayah ini berubah dari kerajinan tradisional menjadi industri ekstraktif.
Sebelum kedatangan bangsa Eropa, penduduk asli Nugini telah lama memanfaatkan kekayaan alamnya dengan menambang dan memperdagangkan alat batu serta oker selama ribuan tahun, sambil mengolah tanah liat untuk berbagai peralatan sehari-hari. Emas pertama kali ditemukan pada tahun 1852, dan demam emas pertama di Papua Nugini terjadi pada tahun 1878. Eksplorasi minyak di Papua Nugini dimulai sejak tahun 1919.
Pada Papua Barat, eksplorasi minyak dimulai pada tahun 1967, dengan eksport perdana pada 1973 oleh perusahaan Freeport. Sejak itu, industri minyak dan gas di wilayah ini telah berkembang pesat, dengan penemuan cadangan minyak yang signifikan terjadi pada tahun 1986.
Selain emas, aktivitas eksplorasi minyak di Papua Nugini juga telah berlangsung selama beberapa dekade, menarik minat banyak perusahaan minyak terkemuka. Perusahaan-perusahaan asal Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat telah mengebor sumur eksplorasi di wilayah ini, mencari ladang minyak baru yang dapat dieksploitasi.
Pada tahun 2000, pemerintah Indonesia menemukan potensi cadangan minyak yang besar di Wilayah Warim, Timika, Papua Tengah. Meskipun potensi ini menjadi daya tarik bagi investasi, warga asli Papua di Distrik Agimuga, Kabupaten Mimika, telah menyatakan penolakan terhadap pengembangan Blok Warim. Peristiwa-peristiwa tragis di masa lalu, seperti genosida yang terabaikan oleh Komisi Hak Asasi Manusia Asia pada tahun 1977, telah meninggalkan trauma dan ketakutan bagi warga setempat.
Dengan sejarah panjang jejak tambang emas dan minyak di Papua Nugini, tantangan dan kontroversi tetap menyertainya, memunculkan pertanyaan etika dan dampak lingkungan dari industri ekstraktif. Hal ini menunjukkan pentingnya pengelolaan yang bijaksana dari sumber daya alam yang melimpah di wilayah ini untuk keberlangsungan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat lokal.

