Energi terbarukan di Efate sedang mengalami kemajuan pesat dengan diresmikannya pembangkit listrik tenaga surya baru berkapasitas 3 megawatt (MW) senilai VT300 juta (Rp 43,2 miliar) di dataran tinggi Kawene, Vanuatu, pada Rabu (15/4/2026). Pembangkit Listrik Tenaga Surya Kawene adalah proyek tenaga surya terbesar di Vanuatu yang didanai melalui perjanjian konsesi antara Pemerintah Vanuatu dan UNELCO. Pembangkit listrik tenaga surya ini mendukung upaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sesuai dengan laporan dari www.dailypost.vu, Kamis (16/4/2026).
Menurut Menteri Perubahan Iklim dan Energi Vanuatu, Ralph Regenvanu, krisis bahan bakar fosil yang diakibatkan oleh konflik di Timur Tengah menjadi alasan yang jelas untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil bagi semua orang. Hal ini disampaikannya dalam konferensi pers setelah Hari ke-1 Dialog Menteri Negara-Negara Kepulauan Kecil Pasifik (PSIDS) tentang Transisi Adil Global di Port Vila yang melakukan kunjungan ke Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Vanuatu.
Vanuatu telah menetapkan target dalam Peta Jalan Energi Nasional untuk mencapai elektrifikasi 100 persen dengan energi terbarukan pada tahun 2030. Menteri Regenvanu menyatakan bahwa negara tersebut berada di jalur yang tepat untuk mencapai target tersebut. Negara-negara Pasifik dengan keuangan terbatas membutuhkan komitmen dari negara-negara yang lebih kaya dalam menyediakan pendanaan iklim bagi energi terbarukan, seperti yang disepakati dalam Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim (UNFCCC).
Dialog Menteri PSIDS tentang Transisi Adil Global di Port Vila bertujuan untuk mengkonsolidasikan posisi regional, memperkuat koordinasi, dan memperkuat tekad kolektif menjelang konferensi global pertama tentang transisi bahan bakar fosil di Santa Marta, Kolombia. Bagi kawasan Pasifik, transisi yang adil tidak hanya tentang ambisi iklim, tetapi juga tentang stabilitas ekonomi, ketahanan, dan kelangsungan hidup.

