Anak Muda Papua dari Gen Z Beraksi dengan Pawai Salib Merah
Di Kota Jayapura, Papua, puluhan anak muda dari Generasi Z Papua melakukan aksi unik dengan menggelar pawai salib merah pada Minggu (21/6/2026). Mereka menolak Proyek Strategis Nasional (PSN) di Kabupaten Merauke, Papua Selatan, serta beberapa isu penting lainnya di Tanah Papua.
Penolakan Terhadap PSN dan Isu Lainnya
Aksi ini diawali dengan peserta berkumpul di Jembatan Merah sekitar pukul 16.00 Waktu Papua. Rute pawai dimulai dari Jembatan Merah hingga berakhir di Distrik Jayapura Utara. Selama berlangsung, para peserta membawa poster dengan berbagai pesan menolak PSN dan menyuarakan isu-isu Papua.
Poster tersebut menyampaikan pesan tegas, antara lain “Gen Z Papua, Tolak PSN Merauke, Papua Bukan Tanah Kosong” serta menyuarakan isu militerisme, genosida, dan isu lingkungan di Papua. Para peserta juga menegaskan bahwa aksi mereka bukan bentuk pemberontakan, melainkan kesadaran kolektif terhadap situasi yang terjadi di Tanah Papua.
Kesadaran Kolektif dalam Aksi Damai
Salah satu perwakilan dari Gen Z Papua, Aldy Hukubun, menyatakan bahwa pawai salib merah ini merupakan bentuk kesadaran kolektif dari anak muda Papua. Mereka ingin menyampaikan kepada publik bahwa Papua tidak dalam kondisi yang baik-baik saja, dan isu-isu penting seperti PSN di Merauke harus diangkat ke publik.
Meskipun aksi mereka dihadang oleh kepolisian dengan alasan tidak memiliki izin dan dilakukan di hari Minggu, para peserta tetap teguh dalam menyuarakan aspirasi mereka. Mereka menegaskan pentingnya memperhatikan isu kemanusiaan, masyarakat adat, lingkungan, dan berbagai isu lain di Tanah Papua.
Pihak kepolisian sempat merebut sebagian perlengkapan pawai seperti spanduk berisi tuntutan mereka. Meski sempat memanas, para peserta akhirnya memutuskan untuk membubarkan diri. Aksi ini diharapkan dapat menjadi pengingat bagi publik bahwa Papua menghadapi situasi yang serius dan memerlukan perhatian lebih.
Gen Z Papua, melalui aksi pawai salib merah ini, memperlihatkan kesadaran dan kepedulian mereka terhadap masa depan Papua. Mereka menolak menjadi korban dan berjuang untuk menjaga hak-hak mereka secara damai dan tertib.

