Pemerintah Papua Nugini mengekspresikan keprihatinan terhadap warganya di Timur Tengah saat ini yang terjebak dalam konflik yang semakin meluas. Meskipun demikian, mereka mendukung serangan terhadap Iran oleh Israel dan Amerika Serikat yang telah memicu eskalasi ketegangan di wilayah tersebut. Perdana Menteri Papua Nugini, James Marape, telah meminta bantuan konsuler dari Australia untuk membantu evakuasi warga Papua Nugini terutama di Uni Emirat Arab.
Eskalasi konflik terjadi bersamaan dengan peningkatan kehadiran diplomatik dan perdagangan Papua Nugini di Timur Tengah. Di tengah situasi ini, Papua Nugini telah membuka kedutaan baru di UEA, seiring dengan yang telah mereka buka di Yerusalem. Meskipun demikian, rencana ini untuk sementara ditunda hingga situasi di Timur Tengah membaik.
Di tengah ketegangan ini, pemerintah Papua Nugini terus berusaha mencari informasi lebih lanjut mengenai warganya yang berada di UEA. Mereka juga mendapatkan bantuan dari Australia dalam upaya evakuasi. Meskipun terkendala dengan penutupan wilayah udara dan perbatasan, pemerintah Papua Nugini terus menjalin komunikasi dengan warganya dan memastikan keselamatan mereka.
Dalam kaitannya dengan serangan terhadap Iran, Papua Nugini menegaskan penolakannya terhadap terorisme dan mendukung langkah Amerika Serikat dan Israel dalam mengatasi ancaman tersebut. Dengan harapan tercapainya gencatan senjata yang damai, Papua Nugini juga berupaya untuk memperjuangkan perdamaian regional dan global di Timur Tengah.
Di sisi lain, Papua Nugini juga menyadari potensi kenaikan harga minyak sebagai dampak dari konflik di Timur Tengah. Meskipun ini dapat menguntungkan Papua Nugini sebagai negara pengekspor minyak dan gas, konsumen domestik harus siap menghadapi kenaikan harga bahan bakar. Sementara Papua Nugini melihat peluang ini, mereka juga berusaha untuk mengatasi dampaknya di pasar domestik.

