Optimalkan Pelaksanaan Kurikulum di SD Negeri Mosso dengan Sarana Penunjang
Pelaksanaan Kurikulum Merdeka di SD Negeri Mosso, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua, belum berjalan sepenuhnya mulus. Di tengah tuntutan pembelajaran yang lebih aktif dan mandiri, sekolah ini masih bergulat dengan persoalan paling dasar: ketersediaan sarana penunjang, terutama buku paket. Kondisi itu membuat guru harus mencari, mengunduh, mencetak, lalu menjilid materi pelajaran secara mandiri demi memastikan proses belajar tetap berjalan.
Buku Paket Jadi Kebutuhan Mendesak
Kepala Sekolah SD Negeri Mosso, Stevanus Mandowen, menyebut ketiadaan buku cetak sebagai hambatan utama dalam kegiatan belajar mengajar. Menurut dia, materi pembelajaran yang seharusnya sudah tersedia dari instansi terkait belum juga disalurkan ke sekolah. Akibatnya, guru dituntut bekerja ekstra untuk menyiapkan bahan ajar dari internet dan menyesuaikannya dengan kebutuhan kelas.
Situasi ini bukan hanya menyita waktu, tetapi juga memengaruhi kelancaran pembelajaran di kelas. Di saat sekolah lain mulai beradaptasi dengan perangkat ajar yang lebih siap, SD Negeri Mosso masih harus bertumpu pada inisiatif para pendidik untuk memenuhi kebutuhan dasar siswa.
Jarak Tempuh Guru Ikut Memengaruhi Jadwal Belajar
Persoalan di sekolah ini tidak berhenti pada minimnya buku. Mobilitas guru yang tinggal jauh dari Kota Jayapura juga menjadi tantangan tersendiri. Perjalanan menuju sekolah kerap membuat aktivitas belajar dimulai lebih lambat dari jadwal yang direncanakan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dukungan terhadap pendidikan di wilayah ini tidak cukup hanya dengan kurikulum, tetapi juga perlu memperhatikan akses dan kesiapan tenaga pendidik di lapangan.
Meski begitu, pihak sekolah tetap berupaya menjaga ritme pembelajaran agar tidak tertinggal terlalu jauh. Keterbatasan fasilitas tidak membuat kegiatan belajar berhenti, tetapi jelas menuntut energi lebih besar dari guru maupun pengelola sekolah.
Jumlah Siswa Bertambah, Komunikasi dengan Orang Tua Diperkuat
Di tengah berbagai keterbatasan, jumlah siswa SD Negeri Mosso justru terus bertambah dari tahun ke tahun. Saat ini, sekolah tersebut menampung 104 siswa dengan tingkat kelulusan mencapai 75 persen. Angka itu menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap pendidikan di sekolah ini tetap ada, meski fasilitas belum sepenuhnya memadai.
Untuk menjaga kehadiran siswa, terutama setelah libur panjang semester, sekolah juga aktif membangun komunikasi dengan orang tua. Langkah ini dinilai penting agar anak-anak tetap kembali ke sekolah dan tidak kehilangan ritme belajar. Di sisi lain, pendidikan di SD Negeri Mosso diberikan secara gratis tanpa pungutan biaya, sehingga akses belajar tetap terbuka bagi keluarga di Distrik Muara Tami.
Dengan kondisi tersebut, kebutuhan paling mendesak bagi SD Negeri Mosso tampak jelas: penyaluran buku paket, perbaikan fasilitas fisik, dan dukungan yang lebih konsisten agar proses belajar mengajar bisa berjalan lebih efektif. Tanpa itu, Kurikulum Merdeka hanya akan bertumpu pada kerja keras guru, bukan pada sistem yang benar-benar siap menopang pendidikan anak-anak di sekolah tersebut.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.

