Operasi Militer di Yuguru: Pengungsian dan Nasib Tragis Warga Sipil
Situasi di Distrik Yuguru, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, terus memburuk dalam beberapa bulan terakhir. Warga sipil yang tinggal di wilayah itu terpaksa meninggalkan kampung halaman mereka setelah operasi militer berlangsung sejak Januari 2025. Kondisi keamanan yang dianggap tidak lagi memungkinkan membuat puluhan warga memilih mengungsi demi menyelamatkan diri.
Warga Tinggalkan Yuguru Sejak Januari
Ketua Klasis Yuguru, Pdt. Sablik Karunggu, menjadi salah satu yang ikut meninggalkan distrik tersebut bersama 15 kepala keluarga warga sipil dan jemaat di bawah KINGMI Klasis Yuguru. Mereka mengambil keputusan itu karena situasi di lapangan dinilai semakin tidak aman, sementara akses untuk memenuhi kebutuhan dasar, terutama bahan makanan, makin sulit diperoleh.
Pengungsian tidak hanya terjadi ke satu titik. Sebagian warga tersebar ke sejumlah daerah, seperti Lanny Jaya, Asmat, Kenyam, Wamena, hingga ibu kota Kabupaten Nduga. Perpindahan ini menunjukkan betapa luas dampak yang dirasakan warga sipil akibat kondisi keamanan yang berubah drastis di Yuguru.
Bangunan Gereja dan Rumah Warga Ikut Terdampak
Klasis Yuguru sendiri memiliki tiga gereja dan tiga pos Pekabarn Injil (PI). Namun, situasi di wilayah itu disebut semakin berat setelah pasukan militer Indonesia menduduki area tersebut. Keberadaan aparat di berbagai titik membuat warga tidak lagi leluasa kembali ke rumah mereka.
Selain memicu pengungsian, keberadaan pasukan militer juga dikabarkan berdampak pada kerusakan bangunan dan rumah warga. Dalam situasi seperti ini, tempat ibadah dan hunian yang seharusnya menjadi ruang aman justru ikut terdampak, memperburuk tekanan yang dialami masyarakat setempat.
Perjalanan Lima Hari Menuju Wamena
Pdt. Sablik Karunggu bersama jemaat akhirnya memutuskan bergerak ke Wamena. Mereka menempuh perjalanan berjalan kaki selama lima hari sebelum tiba di tempat tujuan. Langkah itu diambil sebagai upaya mencari keselamatan di tengah situasi yang menurut mereka sudah tidak bisa lagi ditoleransi.
Dalam pernyataannya, Ketua Klasis Yuguru menegaskan bahwa warga Yuguru harus bisa kembali ke rumah asal mereka. Ia juga meminta perlindungan serta keadilan dari pemerintah atas kondisi yang dialami warga sipil di Distrik Yuguru, yang kini hidup berpencar setelah meninggalkan kampung halaman.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.

