Friday, July 17, 2026
HomeHEADLINEMemanfaatkan Sasi Laut dan Makan Sumbang di Endokisi

Memanfaatkan Sasi Laut dan Makan Sumbang di Endokisi

Memanfaatkan Sasi Laut dan Makan Sumbang di Endokisi

Di Kampung Endokisi, Kabupaten Jayapura, Papua, sebuah smart board yang semestinya menjadi simbol kemajuan justru teronggok tak terpakai. Pemandangan itu menyisakan pertanyaan besar: mengapa dorongan digitalisasi sekolah berjalan, sementara kebutuhan dasar pendidikan di kampung pesisir ini masih jauh dari cukup?

Di tengah situasi itu, masyarakat adat Endokisi memilih tidak menunggu. Mereka mengandalkan tradisi Makan Sumbang dan Sasi Laut untuk menopang biaya pendidikan anak-anak mereka sendiri. Langkah ini lahir bukan dari kemewahan, melainkan dari kegelisahan atas masa depan generasi muda yang terancam kehilangan akses belajar secara layak.

Pendidikan yang Bertumpu pada Warga

Endokisi berada di pesisir utara Kabupaten Jayapura, kawasan yang dikenal memiliki kekayaan alam melimpah. Namun, kekayaan itu tidak otomatis hadir dalam bentuk layanan publik yang memadai. Dalam laporan penelitian JPIC OFM Papua, disebutkan bahwa PAUD Melati dan SD YPK Kantumilena berjalan tanpa dukungan penuh dari pemerintah daerah. Akibatnya, beban penyelenggaraan pendidikan lebih banyak dipikul oleh warga.

Situasi ini memperlihatkan jurang antara wacana pembangunan dan kenyataan di lapangan. Di satu sisi, ada dorongan modernisasi sekolah dengan perangkat digital. Di sisi lain, lembaga pendidikan dasar di kampung justru masih bergantung pada inisiatif masyarakat untuk tetap bertahan.

Sasi Laut sebagai Jalan Bertahan

Dewan Adat Kampung Endokisi memanfaatkan Sasi Laut sebagai salah satu cara menjaga sekaligus menggerakkan kehidupan kampung. Tradisi ini membatasi pengambilan hasil laut dalam periode tertentu, lalu hasilnya dapat diarahkan untuk mendukung kebutuhan bersama, termasuk pendidikan. Dari sini, masyarakat berupaya mengubah kearifan lokal menjadi sumber daya nyata bagi anak-anak mereka.

Di sisi lain, kekecewaan terhadap sulitnya akses beasiswa Otsus membuat warga semakin mantap menempuh jalan kolektif. Makan Sumbang dan Sasi Laut tidak hanya menjadi tradisi, tetapi juga bentuk perlawanan sosial terhadap ketimpangan layanan pendidikan. Warga Endokisi seolah menegaskan bahwa masa depan anak-anak tidak boleh sepenuhnya bergantung pada janji yang tak kunjung hadir.

Antara Kearifan Lokal dan Absenya Negara

Kisah Endokisi memperlihatkan paradoks pembangunan partisipatif: masyarakat diminta aktif, tetapi dukungan negara tetap minim. Dalam kondisi seperti ini, localism bukan sekadar istilah, melainkan strategi bertahan hidup. Warga membangun pendidikan dari bawah, dengan modal solidaritas, adat, dan rasa tanggung jawab bersama.

Namun, ketahanan masyarakat adat tidak seharusnya dijadikan alasan untuk membiarkan negara absen. Endokisi menunjukkan bahwa kearifan lokal mampu menjaga nyala pendidikan, tetapi martabat pendidikan warga tetap membutuhkan kehadiran pemerintah yang nyata, bukan sekadar simbol digitalisasi yang tak menyentuh kebutuhan paling mendasar.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.

BERITA TERKAIT

Berita Populer