Konflik di Tanah Papua: Dari Separatis ke Ekologi dan Sumber Daya Alam
Pertarungan di Tanah Papua ternyata tidak hanya seputar isu kemerdekaan, namun juga masalah ekologi dan pemanfaatan sumber daya alam. Peneliti BRIN, Adriana Elisabeth, menyoroti konflik terkait proyek strategis nasional (PSN) di Papua Selatan yang melibatkan lahan masyarakat adat.
Perubahan Konflik yang Terjadi
Menurut Adriana Elisabeth, dari sekadar isu separatis, kini konflik di Tanah Papua telah bergeser ke isu ekologi. Proyek-proyek seperti PSN di Papua Selatan menjadi pemicu ketegangan baru. Dalam peluncuran buku tentang Thom Beanal, seorang tokoh Papua, terungkap bahwa masalah yang dihadapi Thom Beanal selama ini sebenarnya mencerminkan persoalan yang lebih luas di Papua.
Akar Masalah di Tanah Papua
Adriana Elisabeth merangkum empat akar masalah utama di Tanah Papua. Mulai dari sejarah integrasi politik hingga pelanggaran HAM, kegagalan pembangunan, marginalisasi, dan inkonsistensi dalam penerapan Otonomi Khusus (Otsus). Masalah-masalah ini menjadi pangkal konflik yang terus membara di Papua.
Pengacara dan mantan Direktur Elsham Papua, Aloysius Renwarin, juga turut memberikan pandangan terkait perpanjangan izin PT Freeport Indonesia hingga tahun 2061. Dia menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh aktivitas tambang di Papua.
Begitu juga dengan masa pascatambang, Direktur PT Freeport Indonesia, Claus Wamafma, menegaskan komitmen perusahaan dalam menjalankan praktik penambangan yang berkelanjutan serta pemulihan lingkungan yang telah disetujui pemerintah.
Perlunya Evaluasi dan Kerjasama
Dari sejarah konflik hingga dampak ekologis yang ditimbulkan oleh aktivitas tambang, Tanah Papua masih dihadapkan pada tantangan besar. Evaluasi menyeluruh, kerjasama yang baik antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat lokal menjadi kunci untuk menjaga Papua tetap lestari dan damai di masa depan.

