Jayapura, Jubi – Kontroversi mewarnai film dokumenter “Pesta Babi-Kolonialisme di Zaman Kita” setelah Mama Yasinta Moiwend memberikan tanggapannya terkait kehadiran dirinya dalam beberapa adegan film tersebut.
Permintaan Tim Kolaborasi
Tim kolaborasi film ini meminta publik untuk tidak menghakimi Mama Yasinta Moiwend atas pernyataannya tersebut. Mereka menegaskan bahwa Yasinta adalah seorang tokoh perempuan adat Malind yang telah lama berjuang untuk komunitasnya sebelum proses pembuatan film ini dimulai.
Sejak video penayangan film menyebar pada Sabtu, 23 Mei 2026, hingga Mama Yasinta melaporkan kejadian ini ke Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya pada Jumat, 29 Mei 2026, tim kolaborasi belum bisa menghubungi atau menemui langsung Yasinta.
Komunikasi yang Terputus
Tim kolaborasi terus berusaha membangun komunikasi dengan Yasinta dan keluarganya. Mereka juga berharap agar publik dapat memberikan dukungan dan perhatian terhadap persoalan ini serta melanjutkan solidaritas dalam penyelesaian masalah di Tanah Papua.
Pernyataan Mama Yasinta
Dalam pernyataannya pada pekan sebelumnya, Mama Yasinta menyatakan bahwa ia tidak akan lagi terlibat dengan LBH Papua Merauke. Ia telah memutuskan untuk mencari pekerjaan di perusahaan karena rumahnya membutuhkan perbaikan yang tidak lagi layak. Selain itu, ia juga ingin anak-anaknya memiliki pekerjaan untuk kebutuhan mereka.
Mama Yasinta juga mengungkapkan bahwa kini ia berada di pihak perusahaan, berbeda dengan sikap sebelumnya yang menentang keberadaan perusahaan tersebut. Ia merasa bahwa di masa lalu, ia dimanfaatkan oleh pihak LBH.
Pasca pernyataannya itu, Mama Yasinta melaporkan Direktur LBH Papua Merauke ke Polda Metro Jaya karena merasa aktivitasnya direkam tanpa izin dan diputar dalam film tanpa seizin dirinya. Ia menuntut agar pemutaran film dihentikan.
Mama Yasinta sangat menyesalkan pemutaran film tersebut tanpa izinnya, dan ia datang ke Jakarta untuk memastikan film tersebut tidak diputar lagi tanpa seizinnya.

