Di sudut-sudut Kota Jayapura, ada kisah yang kerap luput dari perhatian: perjuangan para penyandang disabilitas netra yang tetap bertahan hidup dengan berjualan keset dan sapu lidi di emperan toko. Nama-nama seperti Nelman Kopouw, Anike, dan Herman menjadi bagian dari pemandangan sehari-hari di pusat kota, duduk menunggu pembeli sambil menggantungkan harapan pada dagangan sederhana yang mereka tawarkan.
Menjual di Emperan, Bertahan di Tengah Ketidakpastian
Bagi mereka, berdagang bukan sekadar mencari uang, melainkan cara menjaga martabat dan tetap mandiri. Nelman Kopouw, misalnya, sudah kehilangan penglihatan sejak usia tiga tahun. Namun keterbatasan itu tidak membuatnya berhenti berusaha. Ia memilih berjualan keset dan sapu lidi sebagai jalan hidup yang ia tekuni dengan sabar, meski hasil yang didapat tidak selalu pasti. Ada hari ketika dagangan laku, tetapi ada pula masa ketika penghasilan nyaris tak cukup, terutama saat hujan turun atau cuaca tidak bersahabat.
Keadaan seperti itu membuat perjuangan mereka semakin terasa berat. Setiap hari mereka harus duduk di emperan, menunggu orang yang lewat dan berharap ada yang berhenti membeli. Dalam kondisi seperti itu, kesabaran menjadi modal utama selain barang dagangan yang mereka bawa.
Naungan Yayasan Humania di Polimak II Asri
Para penyandang disabilitas netra itu bernaung di Yayasan Humania yang berada di Polimak II Asri. Menariknya, yayasan ini dikelola dan dikoordinir oleh sesama penyandang disabilitas netra. Dari tempat inilah mereka mendapat ruang untuk hidup lebih mandiri, sekaligus mengasah keterampilan yang mendukung keseharian mereka.
Yayasan tersebut tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga ruang untuk membangun harapan. Di sana, mereka mendapat kesempatan untuk berlatih, termasuk dalam bidang musik. Aktivitas itu memberi warna lain dalam kehidupan mereka, di tengah rutinitas berdagang yang sering kali menguras tenaga dan kesabaran.
Wajah Ketekunan di Tengah Jalan Kota
Kehadiran mereka di lokasi-lokasi seperti Toko Saga Dok V Bawah, Gelael Jayapura, hingga kawasan pusat kota menjadi pengingat bahwa perjuangan hidup tidak selalu terlihat dari hal besar. Di balik kesederhanaan dagangan yang dijajakan, ada tekad untuk tetap berdiri dan menjalani hari tanpa bergantung sepenuhnya pada orang lain.
Anike, yang hampir setiap hari dijumpai di Gelael, juga menjadi bagian dari wajah ketekunan itu. Dukungan dan simpati warga sekitar memberi energi tersendiri bagi mereka untuk terus melangkah, meski tantangan tidak pernah benar-benar hilang. Di emperan toko, mereka tidak hanya menjual keset dan sapu lidi, tetapi juga memperlihatkan bahwa daya tahan hidup bisa tumbuh dari keterbatasan yang dijalani dengan kepala tegak.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.

