Yulita Agapa, seorang perempuan dari Paniai, Provinsi Papua Tengah, menemukan kesibukan baru di Manokwari Papua Barat. Sejak kuliah di Kampus Caritas Manokwari pada tahun 2008, Yulita telah memilih untuk tinggal dan berkarir di Amban, Manokwari. Saat ini, dia menekuni usaha rajut noken untuk menghidupi keluarganya. Dalam sehari, Yulita mampu menghasilkan dua noken rajutan berukuran kecil hingga sedang, dengan bahan yang ia beli dari pasar tradisional Sanggeng. Berbagai ukuran dan motif noken dipamerkan sebagai dagangan, dengan harga yang bervariasi sesuai dengan ukuran dan material yang digunakan.
Banyak penjual noken di Jalan Yos Sudarso berasal dari Papua Tengah, yang umumnya membangun lapak sederhana dengan menggunakan kayu dan terpal sebagai perlindungan dari cuaca. Meskipun kadang lapak mereka dirusak, semangat dalam berdagang tak pernah surut. Sebagian besar penjual noken di sekitar Manokwari adalah pengrajin lokal yang gigih dalam merajut dan memajang hasil karyanya.
Para penjual noken juga mendapat kesempatan untuk memamerkan produk mereka dalam berbagai acara, seperti pameran yang diadakan oleh Bank Indonesia atau Pemerintah Daerah. Beberapa di antara mereka bahkan pernah mendapat bantuan modal dari pemerintah setempat. Meski ada tawaran untuk berjualan di dalam pasar, Yulita lebih memilih untuk berdagang di pinggiran jalan karena akses yang lebih mudah kepada pembeli.
Pemerintah Daerah terus berupaya memperbaiki lingkungan pasar agar lebih nyaman bagi para pedagang, termasuk pasangan asli Papua. Meskipun terkadang ada kendala dalam penempatan pedagang, upaya untuk memberikan dukungan kepada para pelaku usaha kecil tetap menjadi prioritas. Semangat dan kerja keras para pengrajin noken seperti Yulita adalah kunci utama dalam mempertahankan keberlangsungan bisnis mereka di tengah tantangan yang ada.

