Gelombang disinformasi di Indonesia tidak lagi hanya terbatas pada konten palsu di media sosial, tetapi telah menjadi masalah sistemik yang mengancam stabilitas informasi publik. Fenomena ini semakin rumit dengan penetrasi Kecerdasan Buatan (AI) yang mempercepat penyebaran informasi tanpa disertai literasi digital yang memadai. Ketua DigiBroadcast/Digital Media and Broadcasting (MASTEL), Neil R. Tobing, mengungkapkan bahwa rendahnya literasi digital, kecanduan platform digital, dan regulasi yang masih reaktif menjadi karakter utama ekosistem disinformasi di Indonesia. Ketika tiga karakter tersebut bertemu dengan teknologi AI, penyebaran disinformasi menjadi semakin cepat dan terkoordinasi, mengancam stabilitas informasi publik secara sistemik.
Di kawasan Timur Indonesia, persoalan disinformasi memiliki dimensi yang lebih kompleks. Founder dan CEO Kabar Grup Indonesia, Upi Asmaradhana, menyoroti karakter politik, sosial, dan demokrasi yang berbeda di wilayah Papua, Maluku, Sulawesi, dan Gorontalo dibandingkan dengan kawasan Barat. Tantangan terbesar di wilayah 3T (terluar, terjauh, terisolir) bukan hanya masalah infrastruktur fisik, tetapi juga ekosistem informasi yang sehat. Sejak Maret 2025, jejaring media di Indonesia Timur telah berupaya membangun kesadaran politik dan literasi teknologi berbasis AI, serta berkolaborasi dengan akademisi di Makassar.
Perspektif gender juga menjadi isu penting dalam adopsi teknologi informasi. Pemimpin Redaksi Konde.co, Luviana Ariyanti, menyoroti rendahnya keterwakilan jurnalis perempuan di Indonesia dan dampaknya terhadap perspektif keberpihakan dalam teknologi. Tingginya angka kekerasan berbasis gender daring (KBGO) di Timur Indonesia sering luput dari perhatian, karena fokus hanya pada jumlah pengguna internet.
Rachael McGuinn, Country Director Indonesia dan Pasifik BBC Media Action, menyatakan bahwa proyek Public Interest Media and Healthy Information Environments (PIMHIE) terus berupaya menjadi fasilitator dialog lintas sektor untuk menciptakan lingkungan informasi yang sehat di tengah perkembangan AI. Diskusi menyimpulkan bahwa ketahanan informasi nasional tidak hanya ditopang oleh perangkat digital, melainkan juga memerlukan literasi kognitif, regulasi yang adaptif, dan keberpihakan pada wilayah-wilayah terpinggirkan dari arus utama informasi.

