Kera Ekor Panjang Kota Jayapura: Jejak Perang Pasifik yang Masih Tersisa
Jayapura, Jubi – Pada 19 April 1942, Tentara Jepang memasuki Hollandia (kini Kota Jayapura). Mereka segera membangun pertahanan berupa gua di Gunung Mher di Distrik Abepura, Kota Jayapura, Provinsi Papua. Gua-gua ini membuat pasukan Sekutu sulit mendeteksi keberadaan Tentara Jepang.
Pada 22 April 1944, Tentara Amerika Serikat melancarkan serangan besar-besaran melalui Operasi Reckless untuk merebut Hollandia. Serangan yang dipimpin oleh Jenderal Douglas MacArthur dibantu oleh kera ekor panjang atau Macaca fascicularis yang turut mendukung pasukan Sekutu.
Kera Ekor Panjang dalam Perang Pasifik
Rudy Mebri, anggota DPR Kota Jayapura, mengungkapkan bahwa kera ekor panjang digunakan oleh Tentara Amerika Serikat sebagai subjek uji coba medis dan penelitian penyakit tropis selama perang Pasifik di Hollandia. Kera ini juga membantu dalam menjelajahi pertahanan gua Tentara Jepang.
Tokoh masyarakat setempat, Frans Itaar, juga menyatakan bahwa kera ekor panjang pertama kali dibawa oleh tentara Sekutu selama Perang Dunia II dan populasinya terus bertambah. Namun, dampak dari keberadaan kera ini terhadap petani dan lingkungan sekitar masih menjadi misteri.
Jejak Kera Ekor Panjang di Kota Jayapura
Atoh, seorang petani di Jalan Baru, mengungkapkan bahwa kera ekor panjang turun ke daerah tersebut saat musim hujan. Meskipun kera tersebut tidak menyukai sayuran, mereka lebih memilih singkong dan pisang sebagai makanan.
Menurut laman internet www.indopacific.org, kera ekor panjang diperkirakan dibawa oleh Tentara Amerika Serikat ke Papua selama Perang Dunia II. Kera-kera ini kemudian digunakan untuk pengembangan vaksin dan sebagai sumber alternatif protein di masa-masa sulit.
Hingga kini, keberadaan kera ekor panjang di Gunung Mher di Kota Jayapura diyakini berasal dari masa pendudukan Sekutu, di mana kera-kera tersebut sengaja dibawa atau dilepaskan dan berkembang biak dengan cepat.
Kera ekor panjang aslinya berasal dari Pulau Mauritis, tetapi sebagian besar jenis kera tersebut telah punah di pulau tersebut akibat campur tangan manusia. Keberadaannya di Kota Jayapura menjadi salah satu jejak bersejarah dari Perang Pasifik yang patut dilestarikan.

