Warga Fiji mengalami antrian panjang di SPBU untuk mengisi BBM setelah harga bahan bakar mengalami kenaikan akibat situasi perang di Timur Tengah. Kelompok regulasi melaporkan kenaikan harga bensin dan solar, memicu panik di kalangan masyarakat yang berebut mengisi tangki sebelum kebijakan baru berlaku. Meskipun Perdana Menteri sebelumnya menjamin tidak akan ada kenaikan harga, kenyataannya harga bahan bakar melonjak. Anggota parlemen oposisi mengecam keputusan tersebut sebagai pengkhianatan terhadap rakyat Fiji.
Meskipun pemerintah menjamin stok bahan bakar cukup untuk beberapa bulan ke depan, peningkatan harga tetap menjadi perhatian utama. Komentar dari anggota parlemen menyoroti keputusan yang dianggap tiba-tiba dan merugikan warga negara. Sementara para ahli menyatakan bahwa perang Amerika Serikat dan Israel di Iran berkontribusi pada kerentanan negara-negara Pasifik terhadap fluktuasi harga minyak global.
Dampak konflik di Timur Tengah tidak hanya terasa di Fiji, tetapi juga di seluruh rantai pasokan minyak dunia. Situasi ini memunculkan kekhawatiran akan kekurangan pasokan minyak global, menimbulkan ketidakpastian di kalangan negara-negara Kepulauan Pasifik. Penanganan kenaikan harga bahan bakar dan ketergantungan pada impor minyak menjadi isu sensitif yang membutuhkan solusi yang tepat dan berkelanjutan.

