Di Jepang, kehadiran robot dengan kecerdasan buatan (AI) bukan lagi hanya sebuah konsep ilmiah, melainkan telah menjadi solusi untuk pekerjaan yang dihindari oleh manusia. Mesin-mesin pintar ini kini dipandang sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa” yang mengambil alih pekerjaan yang tidak lagi diminati oleh tenaga kerja manusia.
Tren inovasi Physical AI (AI Fisik) semakin berkembang di Jepang, dan ini terjadi karena adanya tantangan demografis yang dihadapi negara tersebut. Populasi Jepang telah menyusut selama 14 tahun berturut-turut, dengan kelompok usia produktif yang semakin menyusut. Proyeksi menunjukkan bahwa angkatan kerja Jepang akan kehilangan 15 juta jiwa dalam 20 tahun ke depan.
Untuk mengatasi masalah ini, Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang telah menetapkan target ambisius yakni memimpin pasar global dalam sektor AI fisik dengan menguasai 30 persen pangsa pasar pada tahun 2040. Jepang telah memiliki basis yang kuat dalam industri robotika, dengan para manufaktur negara itu menguasai sekitar 70 persen pangsa pasar global pada tahun 2022.
Pemerintah Jepang di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Sanae Takaichi telah mengalokasikan dana sebesar USD 6,3 miliar untuk memperkuat kapabilitas AI inti dan mempercepat integrasi robotika di sektor industri. Hal ini merupakan langkah strategis untuk menjaga daya saing Jepang dalam menghadapi tantangan demografis dan ekonomi yang dihadapinya.
Dengan komitmen yang kuat dan langkah-langkah yang terencana dengan baik, Jepang berpotensi untuk menjadi pemimpin dalam industri AI fisik di masa depan. Keberhasilan ini tidak hanya akan membantu dalam mengatasi masalah tenaga kerja, tetapi juga akan memperkuat posisi Jepang sebagai negara yang inovatif dan maju di bidang teknologi.

