Selat Hormuz menjadi sorotan setelah dua kapal kontainer COSCO China berhasil menembusnya dalam formasi yang rapat. Keberhasilan ini terjadi setelah percobaan sebelumnya yang gagal, membuat dua kapal tersebut menjadi kapal kontainer non-Iran pertama yang keluar dari Teluk Persia sejak perang meletus pada 28 Februari 2026. Data dari platform pemantau kapal MarineTraffic merekam bahwa kedua kapal tersebut berhasil keluar dari Selat Hormuz menuju perairan terbuka. Kini mereka berlayar menuju Teluk Oman dengan kecepatan tinggi.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur maritim yang sangat penting dan sibuk, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut setiap harinya. Pasca-perang, banyak kapal dari berbagai negara terjebak di Teluk Persia dengan lebih dari 20.000 pelaut di dalamnya. Iran telah mengancam kapal-kapal di Teluk dan melakukan serangan, membuat perusahaan pelayaran enggan mengambil risiko melintas di daerah tersebut. Ancaman termasuk ranjau terapung, rudal, dan serangan drone.
Meskipun demikian, COSCO telah mengeluarkan surat kepada klien-klien mereka bahwa mereka tetap melanjutkan pemesanan kargo umum untuk pengiriman ke kawasan Teluk, termasuk ke negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Bahrain, Qatar, Kuwait, dan Irak. Dengan berhasilnya dua kapal COSCO menembus Selat Hormuz, hal ini menjadi sorotan dalam situasi yang sulit setelah perang di daerah tersebut.

