Wednesday, June 17, 2026
HomeHEADLINEDilema Taksi Kota di Jayapura: Hidup Segan Mati Tak Mau

Dilema Taksi Kota di Jayapura: Hidup Segan Mati Tak Mau

Trayek angkutan umum di Kota Jayapura, khususnya angkutan kota berkode E, mengalami tantangan dalam menarik penumpang. Sopir-sopir taksi kota putih yang beroperasi di seputaran Kota Jayapura, seperti Slamet dan Hairul, merasakan penurunan drastis dalam jumlah penumpang sejak pandemi Covid-19. Kebiasaan masyarakat yang berubah, kemudahan memiliki kendaraan pribadi, serta maraknya transportasi online turut memengaruhi bisnis angkutan kota tradisional ini.

Dampaknya terasa pada para sopir yang harus berputar-putar tanpa penumpang atau hanya mengangkut satu atau dua penumpang saja. Tarif yang sudah tidak lagi menggoda, kehadiran transportasi online yang lebih praktis, dan perubahan perilaku masyarakat membuat taksi kota putih semakin sulit bersaing. Meski jumlah unit angkutan kota khusus trayek E kurang lebih 100, para sopir di Kota Jayapura menghadapi tantangan berupa meningkatnya persaingan dengan angkutan online. Meskipun pemerintah Kota Jayapura telah menyediakan fasilitas yang lebih modern, para sopir diharapkan untuk lebih menghargai investasi yang sudah dilakukan.

Agar tetap bersaing, para sopir taksi kota diminta untuk memberikan pelayanan terbaik, menjaga kebersihan kendaraan, dan merangkul kembali minat masyarakat pada taksi konvensional. Justin Sitorus, Kepala Dinas Perhubungan Kota Jayapura, menekankan pentingnya mentaati aturan serta memanfaatkan fasilitas seperti terminal dengan baik. Dengan begitu, diharapkan para sopir taksi kota dapat terus memberikan pelayanan yang terbaik demi keberlangsungan usaha mereka.

Source link

BERITA TERKAIT

Berita Populer