JPIC OFM Papua Luncurkan Buku Memoria Passionis Seri ke-44
Jayapura, Jubi — Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) Ordo Fratrum Minorum (OFM) Papua baru saja meluncurkan buku Memoria Passionis seri ke-44. Buku ini berisi catatan kronologis berbagai isu sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan hak asasi manusia di Tanah Papua.
Peluncuran buku tersebut berlangsung di Aula Sang Surya, Padang Bulan, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua pada Sabtu (16/5/2026).
Fokus Tulisan dan Pemikiran dalam Buku
Acara peluncuran buku ini turut dihadiri oleh akademisi dan penulis Memoria Passionis, Ignatius Ngari. Menurut Ngari, dalam buku tersebut, fokus tulisan mengangkat isu lingkungan hidup terkait Proyek Strategis Nasional (PSN) dan aktivitas pertambangan nikel di Papua.
Ia menegaskan pentingnya pembangunan yang partisipatif dan melibatkan masyarakat Papua dalam pengambilan keputusan. Pola pembangunan yang cenderung top-down dinilai hanya membuat masyarakat semakin terasing dari proses pembangunan yang terjadi di wilayah mereka.
Kontribusi Akademisi Papua dalam Menyikapi Masalah
Ngarai juga menyoroti pentingnya kesadaran ekologis yang relasional, solidar, dan partisipatif dalam pembangunan. Dia menjelaskan bahwa buku Memoria Passionis pertama kali diterbitkan pada tahun 1998, sejak saat itu, buku ini menjadi rujukan untuk berbagai penelitian di bidang akademik terkait situasi Papua.
Selain itu, Fransina Yoteni, seorang dosen di STFT GKI I.S. Kijne Jayapura, menilai bahwa buku ini dapat menjadi dokumentasi penting yang merekam kekerasan dan penderitaan yang terjadi di Papua. Menurutnya, buku tersebut juga dapat menjadi bagian dari proses penyembuhan trauma bagi masyarakat Papua.
Harapan dan Tujuan Lain dari Peluncuran Buku
Buku Memoria Passionis seri ke-44 disusun dengan model penulisan kronikalia, yang merekam berbagai peristiwa yang terjadi di Papua sepanjang tahun 2025. Tujuan dari peluncuran buku ini juga untuk membangun pemahaman bersama mengenai situasi hak asasi manusia di Papua serta mendorong pernyataan bersama terkait kondisi kemanusiaan di Tanah Papua.
Para penulis, panelis, dan peserta diskusi pada acara peluncuran buku tersebut menyampaikan keprihatinan terhadap situasi kemanusiaan di Papua. Mereka menolak segala bentuk kekerasan serta pendekatan keamanan represif di Tanah Papua.

