Ancaman AI Infrastructure Debt Meningkat, 40 Persen Organisasi di Indonesia Terancam Kehilangan Nilai
Cisco Connect Indonesia 2026 menjadi ruang pertemuan penting bagi para pemimpin industri, pakar teknologi, dan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (KOMDIGI) Nezar Patria untuk membahas arah perkembangan kecerdasan buatan di Indonesia. Di tengah dorongan besar agar AI segera memberi dampak nyata, muncul satu peringatan yang tak bisa diabaikan: banyak organisasi masih berjalan dengan fondasi infrastruktur yang belum siap menopang ambisi mereka.
Temuan Cisco Soroti Risiko Tertinggal
Salah satu perhatian utama dalam acara tersebut adalah hasil terbaru Cisco melalui AI Readiness Index 2025. Laporan itu menunjukkan bahwa 40% organisasi di Indonesia berisiko kehilangan nilai akibat ancaman yang disebut AI Infrastructure Debt. Istilah ini menggambarkan beban yang muncul ketika infrastruktur tidak dibangun seiring kebutuhan AI, sehingga perusahaan kesulitan bergerak cepat saat peluang bisnis terbuka.
Temuan ini memberi sinyal bahwa persoalan AI di Indonesia bukan hanya soal adopsi teknologi, tetapi juga soal kesiapan dasar. Tanpa fondasi yang tepat, investasi AI berpotensi tidak menghasilkan nilai optimal, bahkan bisa menjadi beban tambahan bagi organisasi yang ingin mengejar efisiensi dan inovasi.
Hanya 13 Persen Perusahaan Global Masuk Kategori Pacesetters
AI Readiness Index 2025 juga mencatat bahwa hanya sekitar 13% perusahaan di tingkat global yang masuk kategori AI Pacesetters. Kelompok ini dinilai berada paling depan karena sudah mengambil keputusan infrastruktur yang fundamental dan mampu menciptakan keunggulan berkelanjutan.
Perusahaan-perusahaan tersebut tidak sekadar mencoba AI dalam skala kecil, melainkan telah mengimplementasikannya dengan kecepatan dan skala yang cukup besar untuk membuka beragam use case. Dari situ, mereka lebih dekat pada pencapaian return on investment atau ROI yang nyata.
Kecepatan Implementasi Jadi Pembeda
Pesan yang mengemuka dari temuan Cisco cukup jelas: dalam persaingan AI, kecepatan dan kesiapan infrastruktur menjadi pembeda utama. Organisasi yang lambat menyesuaikan fondasi teknologinya akan semakin sulit mengejar kebutuhan bisnis yang terus berubah. Sebaliknya, mereka yang sejak awal menata infrastruktur dengan tepat memiliki peluang lebih besar untuk memetik manfaat AI secara berkelanjutan.
Di Indonesia, peringatan soal AI Infrastructure Debt ini menjadi relevan karena banyak organisasi tengah berada di fase mencari arah implementasi AI yang paling efektif. Jika fondasi tidak dibenahi sejak awal, dorongan untuk berinovasi justru dapat berubah menjadi biaya yang menumpuk di belakang.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.

